Cerita dari Kebur: Tubuh yang Berbicara [2]

oleh | Jul 10, 2024 | Kondisi Kerja, Masyarakat Lokal, Pangan dan Reproduksi Sosial, Pengorganisasian, Perburuhan

Untuk Husdi (bukan nama sebenarnya), kawan buruh sawit di Kebur yang wafat setelah mengalami sakit paru-paru berkepanjangan.

Enam tahun telah berlalu sejak perusahan perkebunan sawit menghimpit, menyebarkan ketidakpasian kerja, serta meracuni di Desa Kebur. Namun, hingga kini, buruh sawit di desa ini masih berjuang untuk kondisi kerja yang hak K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Perjuangan yang dimulai pada tahun 2019 silam ini tidak lepas dari upaya membangun diskusi rutin dan pendidikan dalam serikat yang bernama Serikat Buruh Sawit Sejahtera (SBSS). Tidak jarang, diskusi ini hadir di ruang-ruang yang tidak umum dilakukan di perkotaan, misalnya di rumah anggota, di dapur, hingga di pemancingan. 

Sementara itu, bukan menjadi rahasia lagi apabila partisipasi diskusi serikat sering kali didominasi laki-laki yang mengindikasikan perlu ada pendekatan khusus untuk melibatkan buruh perempuan dalam diskusi di serikat buruh perkebunan. Mayoritas buruh perempuan adalah buruh kontrak pendek dan borongan yang dibayar murah tanpa perlindungan keberlanjutan kerja dan hak kesehatan dan keselamatan kerja yang memadai. Bagi SBSS, salah satu upaya membuat ruang diskusi nyaman bersama buruh perempuan umumnya dimulai dengan diskusi kondisi kesehatan. 

Pada Januari 2023 lalu, forum diskusi tentang bahaya bahan kimia perkebunan dan pentingnya mendokumentasikan keluhan sakit bersama dosen sekaligus peneliti Poltekkes Kemenkes Palembang, Bu. Dr. Maksuk S.Km., M.Kes beserta kelompok mahasiswa membersamai proses diskusi bersama buruh perempuan. Diskusi ini menjadi ruang bercerita, konsultasi kesehatan, pengembangan kapasitas, dan pengumpulan data keluhan kesehatan buruh sawit. Kami percaya, penting untuk memperbanyak diskusi seperti ini. Maka dari itu, catatan lapang ini akan mengulas kembali metode dan dinamika diskusi dalam serikat buruh perkebunan;

 

Lingkaran yang Membaca dan Berbicara

Sembari mahasiswa melakukan tensi dan konsultasi kesehatan, tepat di ruang tamu gelas-gelas berisi kopi melingkar di depan tempurung lutut para laki-laki. Sedangkan, tepat di ruang sebelah, kelompok perempuan dan anak-anak dengan busana rapi berdatangan sepulang kenduri. Mereka mengestafetkan segelas minuman mineral, menuang teh manis, dan mencicipi pisang kukusan sembari senantiasa melongok pintu yang menganga untuk menunggu kawan yang lain.

 

Buku Saku Kesehatan dan Keselamatan Pekerja Sawit

 

Dalam lingkaran yang semakin merapat, dua buah cetakan buku berjudul “Buku Saku Kesehatan dan Keselamatan Kerja” berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Beberapa dari mereka dapat membaca dengan nyaman, selagi sisanya memicingkan mata untuk melihat lamat-lamat huruf seukuran jagung. Beberapa lainnya lebih nyaman untuk melihat poster dari buku yang dicetak seukuran nampan. Sehingga, secara sigap, ketua serikat buruh mengambil paku dan palu untuk menempelkan poster, sembari bercerita,

“Di sini lah tempat berkumpul pekerja. Waktu itu manajer dan orang dari RSPO juga pernah ke sini. Poster-posternya saya tempel saja, lah, biar semua orang bisa tahu bahaya kesehatan dari pestisida ini!” 

Lingkaran diskusi diawali oleh kelompok laki-laki, dengan salah satu pertanyaan pemantik diskusi tentang keluhan kesehatan yang linear dengan tingginya beban kerja, khususnya ketika mengejar target tinggi pada kondisi cuaca buruk. Diskusi kemudian meluas pada diagnosa penyakit di klinik yang seringkali terlalu umum dan dirasa tidak efisien. Misalnya, pusing dan mual sering kali dikorelasikan sebagai masuk angin yang obatnya parasetamol. 

Menurut pengalam pengurus serikat, masalah kesehatan mendesak serikat buruh untuk sigap mendampingi dan menuntut pemenuhan hak jaminan kesehatan dan pelayanan kesehatan di kebun sawit. Serikat buruh biasanya mendampingi proses berobat mulai dari klinik, puskesmas, dan rumah sakit untuk memastikan pengobatan gratis, layanan kesehatan kerja dipenuhi, dan buruh dapat cuti sakit. Selagi beberapa pendampingan disebutkan berhasil, beberapa kasus lainnya harus diwarnai kekesalan atas rumitnya administrasi layanan kesehatan kerja perusahaan dan negara.

Mendiskusikan Cetakan Poster Jenis-Jenis Herbisida

 

Mengikuti tubuh

Sedikit berbeda dari diskusi dengan buruh laki-laki, metode lebih interaktif melalui “peta tubuh” dilakukan di kelompok perempuan. Diskusi dimulai dengan mengidentifikasi bahaya minyak kuning (bahan akitf glifosat) dan minyak hijau (bahan aktif triklopir) yang secara cepat dapat menyebabkan keracunan dan secara laten menyerang organ dalam tubuh sehingga menyebabkan perasaan tidak nyaman. Kemudian, tiap orang menuliskan sebanyak-banyaknya keluhan sakit yang pernah dialaminya semasa bekerja. Menariknya, hanya perlu lima menit untuk melihat beragam tempelan keluhan sakit ibu-ibu buruh di peta tubuh. 

 

Mengawali Diskusi dengan Peta Tubuh

 

Setelahnya, diskusi dibuka dengan mengulas keluhan sakit yang sudah ditempelkan. Pertama-tama diskusi menemukan kecenderungan utama mayoritas buruh sawit perempuan yaitu keluhan sakit kepala berupa nyeri ketika bekerja dan selepas kerja (di rumah) dengan gejala sakit yang mereka rasakan seperti pusing, sakit kepala bagian depan, atau sakit kepala sebelah (migren). Setelah investigasi, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan keluhan sakit yaitu cuaca terik dan tingginya paparan pestisida yang terhirup karena angin serta minimnya penggunaan respirator. Bagi buruh, faktor ini tidak dapat dihindarkan karena APD (Alat Perlindungan Diri) sebagai proteksi paling minimal disediakan secara tidak ergonomis dengan bahan lateks yang memicu iritasi dan tidak relevan untuk digunakan lebih dari 4 jam di tengah cuaca terik. Tidak jarang, buruh berinisiatif mengganti respirator dengan masker kain yang justru semakin siang, semakin basah oleh keringat dan dapat memungkinkan pestisida untuk menyerap kedalam masker kain, sehingga dapat menimbulkan gejala keracunan atau sakit di kemudian hari. Hal ini kiranya dapat diistilahkan seperti ‘maju kena, mundur kena’.

Hal yang tidak kalah berbahaya lainnya yaitu keluhan sakit mata. Berbagai penuring dan penyepring mengaku kesulitan bekerja dengan fasilitas kacamata keselamatan (safety google) yang mudah mengembun, sehingga menyulitkan pandangan mereka. Beberapa kali para pekerja harus melepaskan kacamata itu untuk menghilangkan embun. Sementara, tanpa kacamata, mata menjadi rawan kecelakaan kerja, seperti terciprat minyak (herbisida) dan kelilipan pupuk. Dampak yang dirasakan buruh yaitu mata panas dan tidak dapat melihat untuk beberapa saat. 

“Iya, mata Saya waktu itu kena pupuk gara-gara angin. Sehabis itu, Saya jatuh dan Saya teriak minta tolong ke temen-temen Saya. Mata saya perih dan panas waktu itu. Mata Saya cuman disiram sama air bersih supaya bisa membuka mata lagi. Setelahnya, Saya dibawa ke klinik oleh mandor.”

Tutur Nursyamsiah (bukan nama sebenarnya), Penuring. 

Pada bagian mulut, buruh sawit mengeluhkan degradasi fungsi indra perasa yaitu lidah. Keluhan ini khususnya dialami penuring karena mengaplikasikan pupuk kimia menggunakan tangan. Menurut penuring, kepekaan indera perasa berkurang walaupun mereka sudah mencuci tangan dan makan di tempat yang jauh dari lokasi pengaplikasian pupuk.  

“Saya sudah memakai sarung tangan (kain). Saya juga sudah cuci tangan sebelum makan, tapi tetap saja, lidah saya sering terasa sangat pahit… Kadang selepas menuring, Saya lihat cincin Saya sampai berubah warna dari perak ke hitam, sampai ke kulit-kulitnya. Saya pikir memang pupuk sawit bisa sampai berdampak segitunya pada benda logam, apalagi lidah Saya.” 

Tutur Suryani (bukan nama sebenarnya), Penyepring.

Kemudian, mayoritas penyepring mengeluhkan sesak nafas. Kondisi ini disinyalir terjadi karena mereka senantiasa menghirup bahan kimia berbahaya yang terhirup, melalui tenggorokan, dan mengendap dalam organ paru-paru. Salah satu kondisi sakit parah dialami oleh Husdi, buruh sawit laki-laki yang mengalami keluhan sakit sesak nafas dan kehilangan suaranya karena menyepring. Gejala awal yang timbul yang Husdi rasakan adalah badan terasa lemas dan batuk-batuk. Setelah satu bulan dibiarkan, penyakitnya terasa semakin parah, Husdi dimutasi menjadi pemanen, yang rupanya tidak dapat mengurangi keluhan sakit batuk-batuk, kehilangan suara, lemas, hingga rasa sakit di dadanya ketika minum yang berkepanjangan. Husdi ditemani kerabatnya memutuskan untuk memeriksakan kondisinya di rumah sakit kota, dengan anggapan rumah sakit di kota memiliki fasilitas yang memadai sehingga mendapat penjelasan lengkap dan diagnosa yang tepat. Alih-alih mendapatkan keduanya, dokter memberikan diagnosa bahwa Husdi hanya mengidap penyakit radang paru-paru tanpa diberi keterangan lebih lanjut terkait penyakitnya.

“Kasus Husdi dapat dimungkinkan memiliki kaitan dengan posisi kerja bapak sebagai penyemprot sebelumnya, dan dapat dimungkinkan bahwa kasus ini adalah salah satu contoh dari bahaya jangka panjang dari penggunaan bahan kimia berbahaya seperti pestisida, dengan pemeriksaan lebih lanjut.”

Ujar Bu. Dr. Maksuk S.KM. M. Kes.

Selain itu, berbagai keluhan sakit tubuh juga diduga terjadi karena kondisi kerja dan alat kerja yang tidak nyaman. Keluhan sakit dimulai dari bahu, punggung, pinggul, lutut, dan kaki sering kali mengalami nyeri dan pegal. Memperkuat keluhan ini, penuring menjelaskan bahwa sehari-harinya ia menggendong 5 sampai 10 karung pupuk yang beratnya hampir 3 kg/ sekali pikul untuk ditaburkan sembari mendaki perkebunan sawit yang berbukit. Di sisi lainnya, penyemprot juga turut menggendong tangki penyemprot di punggung mereka, yang dapat menampung cairan pestisida sebanyak kurang-lebih 16 liter, dengan berjalan kaki. Serta, mengutip brondol hingga 3 – 10 kg per karung dengan posisi jongkok dan berdiri. Tidak lupa, buruh yang bertugas memindahkan janjang kosong mengangkut lebih dari 10 kg per harinya.

Tidak luput dibahas, tekanan kerja dan permasalahan sanitasi turut mempengaruhi gangguan organ reproduksi yang dirasakan laki-laki dan perempuan. Kelompok perempuan merasakan sakit tepat pada bawah pusar perut yang kemudian diikuti dengan keputihan yang membuat tidak nyaman. Sementara, pada kelompok laki-laki ‘turun berok’ atau hernia juga menghantui. Minimnya sanitasi dan sarana kebersihan di komplek perkebunan sawit juga menjadi salah satu isu yang cukup diperhatikan juga akhir-akhir ini. Tidak adanya sanitasi dan fasilitas kebersihan ini kemudian menimbulkan beberapa gejala yang dirasakan pekerja seperti yang dialami Suryani dan Nursyamsiah. Hingga saat ini, mereka masih mengandalkan saluran sungai besar yang melintasi kebun untuk membersihkan diri mereka selepas bekerja.

 

Tantangan Merawat Pekerja Perawatan

Waktu tidak menyurutkan semangat buruh sawit. Menjelang akhir diskusi, gelombang cerita dan tantangan mengobati bermunculan ditandai dengan berbagai curahan emosi kecewa atas terbatasnya layanan kesehatan murah bagi buruh sawit. Tidak jarang, buruh sawit menghadapi kasus yang menempatkan kondisi sakitnya sebagai hal yang sepele dan sekadar masalah birokrasi semata. Tak lantas, kondisi ini menunjukkan tidak seriusnya perusahaan dan negara dalam komitmen mewujudkan kesehatan buruh sawit.

“Kami waktu itu di cek buta warna oleh pihak perusahaan, dan itu tidak jelas sekali, apa gunanya pengecekan buta warna itu buat kami?” 

Gerutu Tiana.

“Saya Saat pemeriksaan kesehatan itu sempat konsultasi dengan pihak yang memeriksa tentang keluhan Saya yang sering mengalami sesak nafas dan pusing. Tapi mereka malah balik menanyakan Saya, ‘ibu sering operasi ya?’, kan saya jadi bingung. Lagian, mana bisa kami masuk ruang operasi, duit saja kami kekurangan!” 

Ujar Aini yang disambut gelak tawa dari kawan-kawannya.

Sebagaimana Tiana dan Aini, buruh sawit berpendapat fasilitas pengecekan kesehatan buruh sawit tidak mampu menjawab semua pertanyaan dan tantangan atas kondisi kesehatan sehari-hari. Dalam keluhan lainnya, Husdi yang kelewat sakit saja harus mengalami proses administrasi rumit yang membuatnya terlempar dari satu poli ke poli lainnya sebelum pada akhirnya dirujuk ke rumah sakit di kota tanpa diagnosa yang ajeg dan disertai besarnya pengeluaran. Tentunya, dengan segala keterbatasan, dokter tersebut belum mampu melihat korelasi sakit Husdi dengan kondisi kerjanya. 

“Oleh dokter itu Saya diminta untuk melakukan ronsen paru-paru dan tenggorokan. Setelah itu, Saya dinyatakan menderita gangguan peradangan paru-paru. Dokter itu menjelaskan lewat hasil ronsen paru-paru Saya yang memiliki flek. Namun Saya masih bernafas dengan biasa saja, tidak ada kendala sesak nafas. Namun suara saya hilang dan tenggorokan terasa sakit ketika minum.”

Ujar Husdi dan istrinya, Hasna, menjelaskan tantangan berobat.

Nyatanya tantangan diagnosa yang dialami Husdi bukan merupakan hal baru dalam dunia kesehatan kerja yang sering kali disebabkan oleh minimnya infrastruktur dan tenaga ahli. Menanggapi ini, bu Maksuk memberikan saran untuk buruh sawit senantiasa mengajukan pertanyaan detail terkait penyebab, dugaan sakit, dan pengobatan sakit sampai dapat dimengerti. Terutama, dalam kebutuhan ronsen yang terbilang mahal, tiap pasien berhak untuk mendapatkan penjelasan dari ronsen tersebut. Prinsip hak pasien ini sama halnya dengan hak untuk pembacaan diagnosa dari pengecekan kesehatan yang difasilitasi perusahaan perkebunan. Setidaknya, keterbukaan informasi ini dapat membantu proses penyembuhan dan mencegah peristiwa yang sama dapat terulang pada buruh sawit lainnya.

“Seharusnya setiap hasil pemeriksaan pasien harus dijelaskan oleh dokter yang memeriksa kepada pasiennya secara mendetail sampai mengerti. Penjelasan ini berkaitan dengan hak pasien yang mengalami penyakit apa pun“

Ujar Bu. Dr. Maksuk S.KM. M. Kes.

Sayangnya, tidak hanya tantangan dari fasilitas yang alakadar, perusahaan juga mengajukan persyaratan administratif yang tidak manusiawi. Misalnya, Husdi yang sakit saat itu berobat menggunakan BPJS Kesehatan yang memerlukan beberapa hari bolak-balik mengurus rujukan sebelum akhirnya rawat inap selama lima hari. Sementara, perusahaan dengan standar batas waktu sakit yang terbatas menyatakan durasi lima hari sakit Husdi dinyatakan ‘mangkir’. 

 

Foto ronsen dada Husdi

 

Merawat Kekompakan

Para perempuan berbisik seiring dengan lantunan adzan mengumandang di langit Kebur. Beberapa masih membicarakan pengalaman berobat dari klinik ke klinik, ketika beberapa lainnya mengangkat kaki untuk berjalan pada rak piring. Satu perempuan memutar piring ke perempuan lainnya. Akhirnya, diskusi dicukupkan ketika pemilik rumah memanggil peserta dengan harum sayur-mayur yang masak. 

Diskusi dengan kelompok perempuan senantiasa memberikan warna baru dalam serikat buruh. Alih-alih diskusi yang serius, kegiatan hiburan seperti senam dan saling menjadi strategi untuk menghangatkan suasana. Tidak jarang, perempuan yang datang pada diskusi serikat buruh adalah mereka yang mencuri waktu luangnya dari kesibukan mereka sebagai buruh kebun dan buruh rumah tangga dan mereka yang tengah memupuk keberanian untuk melawan stigma anggota serikat buruh rentan dipecat. Sehingga model diskusi yang serius perlu dihindari karena dianggap menakutkan.

Ada pun, berbicara tentang kehadiran perempuan maka tidak dapat dipisahkan dari harapan keluarga buruh sawit untuk hidup sejahtera. Tidak jarang forum diskusi menjadi bilah papan pengait untuk menggantungkan cita-cita puan tentang pemenuhan kebutuhan harian mereka dan keluarga, mulai dari keinginan perawatan kulit (skin care), pangan, sekolah anak, hingga pekerjaan yang tetap. Bagaimanapun, satu hal yang harus senantiasa diulang, kaum perempuan sebagaimana halnya dengan laki-laki, memiliki kesempatan yang sama untuk memperjuangkan hak-haknya yang mana semua perjuangan ini dimulai dengan memperbanyak diskusi bersama serikat buruh.

Pada akhirnya, cerita singkat perjalanan ke Kebur, Sumatera Selatan ini mungkin menjadi sebuah pengayaan metodologi untuk pembaca memahami tantangan kehidupan buruh sawit. Selagi di saat bersamaan, cerita singkat ini merupakan rangkaian upaya buruh sawit merawat kekompakan dengan membiasakan diri berkumpul, berbagai cerita, memetakan masalah, sembari mencari jalan terang untuk merenggut hak-haknya. 

Tentu, satu tulisan ini belum tentu menggambarkan kondisi 16,2 juta buruh sawit di Indonesia. Masih perlu lebih banyak tulisan untuk menceritakan perjuangan buruh-buruh sawit untuk berdiskusi. Masih perlu juga lebih banyak kata dan lisan dari buruh sawit yang dibagikan untuk menyadari, seperti apa kondisi buruh dan serikat buruh di negara penghasil minyak sawit dunia?

 

Ditulis oleh Dzulfiusi Rafif dan Salma Rizkya Kinasih
 

 

Catatan Bahasa Daerah

Herbisida

:

Minyak

Penyemprot bahan kimia

:

Penyepring

Penabur pupuk kimia

:

Penuring











Pin It on Pinterest