Syngenta adalah perusahaan agrokimia yang berkantor pusat di Swiss dan dimiliki oleh konglomerat Tiongkok, ChemChina, sejak tahun 2017. Bersama dengan Bayer-Monsanto, BASF, dan Corteva, keempat perusahaan ini mendominasi pasar [1] untuk mendistribusikan pestisida [2], benih komersial, dan herbisida bersifat ganda (stacked trait) yang semakin marak. Imperium beracun Syngenta mencakup hampir 90 negara, meracuni tubuh para buruh dan penduduk setempat, serta tanah, air, dan tanaman mereka di seluruh dunia [3].
Pestisida Syngenta terkenal karena toksisitasnya [4] – paraquat, thiamethoxam, chlorothalonil, atrazine, diquat – yang langsung berasal dari dalam laboratorium mereka. Beberapa di antaranya dilarang di Eropa karena dampak buruknya terhadap kesehatan, tetapi masih dapat diekspor dari Eropa, Prancis, dan Swiss [5 –11] ke negara-negara Selatan Global (Global South), seperti Brasil [12] dan India [13]. Standar ganda peraturan ini melindungi masyarakat di Barat sekaligus meracuni petani dan penduduk setempat di Selatan Global atas latar rasisme lingkungan.
Lebih jauh lagi, Syngenta telah gagal menerapkan uji kelayakan hak asasi manusia [14] terkait penggunaan produk-produknya dan tidak memberikan pelatihan maupun instruksi pada labelnya. Para petani dan buruh yang bersentuhan langsung dengan produk-produk ini secara rutin, sekali lagi, adalah pihak yang paling terdampak oleh racun tersebut. Selain itu, paraquat dan diquat juga termasuk pestisida yang paling sering digunakan oleh petani meski dapat mengakhiri hidup mereka sendiri [15] karena terjebak dalam ketergantungan ekonomi pada produk-produk ini.
Saat ini, paten-paten lama atas pestisida sudah mulai habis masa berlakunya, dan industri ini sedang mengalami transformasi menghadapi banjir produk generik [16] di pasar [17]. Syngenta dan sejenisnya mengeksploitasi fluktuasi hak kekayaan intelektual untuk menghilangkan tanggung jawab historis mereka atas penyebaran racun-racun ini.
Syngenta membunuh dan mengintimidasi demi membungkam perlawanan petani. Pada tahun 2026, Pengadilan Tinggi di Brasil mengonfirmasi tanggung jawab Syngenta [18] dan kewajibannya untuk membayar kompensasi atas pembunuhan petani tak bertanah Valmir Mota de Oliveira, yang dikenal sebagai Keno. Keno adalah seorang pemimpin gerakan buruh tak bertanah di Brasil dan sedang memprotes eksperimen ilegal Syngenta dengan benih rekayasa genetika.
Pestisida di Masa Damai, Senjata Kimia di Masa Perang
Di masa perang, perusahaan-perusahaan yang nantinya mendominasi sektor agrokimia dimobilisasi untuk memproduksi bahan peledak. Hal ini bermula dari infrastruktur kimia dan industri yang sama: proses Haber-Bosch untuk menyintesis amonia, dan senyawa amonium nitrat yang dihasilkannya, mendasari pupuk nitrogen sekaligus bahan peledak berbasis nitrat [19]. Sejak saat itu, teknik kimia telah merancang strategi industri yang menggiurkan untuk menjual produknya dalam dua ranah: menghancurkan otonomi petani di masa damai, dan menekan perlawanan anti-imperialis dan anti-kolonial di masa perang.
Nobel Industries, salah satu dari empat perusahaan yang bergabung menjadi Imperial Chemical Industries (ICI) – pendahulu Syngenta – adalah pemasok bahan peledak utama selama Perang Dunia Pertama. ICI sendiri, yang dibentuk pada tahun 1926, menjadi produsen utama bahan peledak selama Perang Dunia Kedua [20]. ICI juga memasok pemerintahan kolonial Inggris di Malaya dengan campuran 2,4-D dan 2,4,5-T, yang disemprotkan sejak awal 1950-an terhadap Tentara Pembebasan Nasional Malaya, pasukan pejuang yang melawan penjajahan Inggris [21]. Program peperangan herbisida AS di Vietnam, Operasi Ranch Hand, yang menghasilkan Agen Oranye, secara langsung meniru preseden kolonial Inggris ini [22].
Saat ini, perluasan dan intensifikasi penggunaan pestisida saling terkait dengan pergeseran tatanan geopolitik serta bangkitnya politik sayap kanan dan otoriter [23], yang agenda anti-regulasinya menghasilkan pola paparan dan bahaya yang sangat tidak merata di berbagai wilayah.
Syngenta, Pemonopoli Benih yang Menghapus Pengetahuan Petani
Produksi pestisida secara industri pada dasarnya terkait erat dengan penguasaan benih, dan karenanya berdampak pada hilangnya otonomi petani serta hancurnya pengetahuan mereka. Oligopoli [24] yang terdiri dari Bayer, Corteva, Syngenta, dan BASF menguasai lebih dari 50 persen pasar benih komersial. Ini sebagian besar adalah varietas seragam, dikembangkan di segelintir laboratorium, lalu ditanam di ribuan petak tanah yang berbeda di seluruh dunia. Agar tanaman ini bisa tumbuh, mereka harus disiram dengan bahan kimia yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan yang sama.
Benih komersial ini dilindungi oleh hak varietas tanaman atau paten yang menghambat peredaran benih secara bebas. Hal ini tidak hanya memblokir evolusi tanaman yang telah dibentuk oleh pertukaran antarpetani selama ribuan tahun – di saat ladang sangat membutuhkan keanekaragaman untuk menahan dampak perubahan iklim – tetapi Syngenta juga memprivatisasi sumber daya yang bukan miliknya.
Pada tahun 2013, misalnya, Syngenta diberikan paten atas lada tahan serangga [25], meskipun ketahanannya berasal dari lada liar asal Jamaika yang disilangkan dengan lada komersial. Pembajakan dan privatisasi kehidupan sedang menghapus pengetahuan tradisional petani.
Pada tahun 2003, militer AS mengebom bank benih nasional Irak. Pemerintahan transisi selama masa pendudukan kemudian mengizinkan perusahaan internasional untuk mematenkan benih di Irak sekaligus melarang petani menyimpan dan menukar benih. Iklim inilah yang memungkinkan Syngenta [26] membangun kehadirannya di wilayah tersebut dan memaksakan penjualan produknya di sana. Bersamaan dengan benih, perusahaan menjual stok tefluthrin dan chlorothalonil ke lahan pertanian Irak – bahan aktif dalam pestisida yang diklasifikasikan sangat beracun dan dilarang di Eropa.
Adama, Anak Perusahaan Syngenta yang Membantu Menjajah Palestina dan Lebanon
Pada tahun 2020, Adama Agricultural Solutions, anak perusahaan Israel yang memproduksi pestisida generik, menjadi bagian dari Syngenta Group. Sebuah laporan yang didokumentasikan pada tahun 2019 [27] menunjukkan bagaimana militer Israel melengkapi penghancuran lahan pertanian dan perumahan di dekat perbatasan timur Gaza menggunakan buldoser dengan penyemprotan pestisida dari udara tanpa pemberitahuan. Hal ini menghancurkan seluruh petak lahan yang dulunya subur di sepanjang pagar perbatasan, serta tanaman dan lahan pertanian hingga ratusan meter ke dalam wilayah Palestina. Salah satu pestisida yang digunakan adalah Diurex, yang diproduksi oleh Adama.
Praktik penyemprotan herbisida dari udara berlanjut hingga hari ini. Ada banyak laporan bahwa militer Israel terbang [28] di atas daerah perbatasan menuju Lebanon dan Suriah, menyemprotkan herbisida di ladang pertanian, yang memicu kekhawatiran tentang paparan terhadap warga sipil serta perusakan ladang pertanian dan lingkungan.
Adama terkait erat [29] dengan proyek ekspansi kolonial Israel. Pestisida mereka digunakan sebagai bagian dari eksperimen pertanian di Lembah Yordan, di Tepi Barat yang diduduki, dan di Dataran Tinggi Golan Suriah, melalui lembaga-lembaga penelitian. Perusahaan ini melayani kompleks industri militer Israel. Negara tersebut membanggakan dirinya sebagai yang terdepan dalam bidang agritech dan pertanian presisi (penyemprotan pestisida dengan drone), tetapi pengembangan teknologi ini diorientasikan pada tujuan militer. Perusahaan agrokimia dan perusahaan senjata bergerak beriringan dalam melakukan ekosida dan genosida ini.
Digitalisasi: Bahaya Baru bagi Petani Kecil Afrika
Di Tanzania, Syngenta bermitra dengan Yara, Rabobank, Bayer, dan Aliansi untuk Revolusi Hijau di Afrika (yang didirikan oleh Yayasan Bill & Melinda Gates) untuk mempromosikan platform digital bernama MkulimaHub [30] kepada petani kecil. Proyek ini dirancang agar petani bergantung pada saran agronomi yang mereka terima dan mendorong mereka menggunakan produk perusahaan, termasuk benih, pestisida, dan pupuk. Meskipun layanan ini dipromosikan sebagai cara untuk memberi petani lebih banyak informasi, pada kenyataannya layanan ini berkontribusi pada penurunan keahlian (de-skilling), mendorong petani untuk lebih bergantung pada saran yang dihasilkan oleh algoritma dan input dari korporasi daripada pengetahuan lokal dan benih mereka sendiri. Platform ini juga menghubungkan petani dengan lembaga keuangan yang menyediakan pinjaman. Syngenta sedang memperluas pertanian digital di Afrika dan belahan dunia lainnya. Hal ini menempatkan petani kecil pada posisi yang sangat genting [31], serta menjebak mereka dalam lingkaran setan penggunaan bahan kimia dan perangkap utang yang berkelanjutan.
Kekerasan Kimia, Sebuah Respons Internasional
Dalam solidaritas bagi penduduk dunia yang melawan kekerasan kimia dan kolonialisme benih Syngenta—yang sudah ada sejak sebelum taktik Revolusi Hijau — serta bagi masyarakat di mana pun yang menghadapi bahaya pestisida, mobilisasi aksi kami pada 3 Oktober akan berlangsung bersamaan dengan aksi-aksi di seluruh dunia di mana Syngenta beroperasi: Prancis, Kosta Rika [32], Pakistan, Swiss [33], Belgia, Indonesia, Hawaii, Amerika Serikat, Swedia, Brasil, Inggris, dan tempat-tempat lainnya.
“Pestisida dan Syngenta: tidak di sini, tidak di mana pun!” Mobilisasi aksi kami dimaksudkan sebagai titik temu bagi perjuangan para petani, aktivis lingkungan, aktivis dekolonial, dan mereka yang memperjuangkan kesehatan buruh.
Sumber Tulisan: Syngenta: a poisoner without borders
Referensi
[1] Berndt, C., Werner, M., Mempel, F., Shattuck, A., & Dunivin, Z. O. (2025). The generics revolution and the new economic geography of the global pesticide industry. Journal of Agrarian Change, e70007. https://doi.org/10.1111/joac.70007 ↩
[2] Public Eye. (n.d.). “Analyse des ventes de pesticides” [Topics, Pesticides page]. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/en/topics/pesticides/pesticide-giants-make-billions-from-bee-harming-and-carcinogenic-chemicals ↩
[3] Public Eye. (n.d.). Syngenta [Tag page]. Public Eye. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/en/tag/syngenta ↩
[4] Public Eye. (n.d.). Report “Highly Hazardous Profits – How Syngenta makes billions by selling toxic pesticides”, April 2019. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/fileadmin/doc/Pestizide/2019_PublicEye_Highly-hazardous-profits_Report.pdf ↩
[5] Public Eye. (n.d.). “Pesticides interdits : l’hypocrisie toxique de l’Union européenne”, 8 septembre 2020 [Topics, Pesticides page]. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/fr/thematiques/pesticides/pesticides-interdits-ue ↩
[6] Public Eye. (n.d.). “EU sending huge quantities of banned, bee-killing pesticides to poorer countries, documents reveal”, 16 May 2023 [Topics, Pesticides page]. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/en/topics/pesticides/eu-sending-huge-quantities-of-banned-bee-killing-pesticides-to-poorer-countries-documents-reveal ↩
[7] Public Eye. (n.d.). “Les exportations de l’UE en forte hausse malgré les promesses de la Commission”, 23 septembre 2025 [Topics, Pesticides page]. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/fr/thematiques/pesticides/les-exportations-de-lue-en-forte-hausse-malgre-les-promesses-de-la-commission ↩
[8] Public Eye. (n.d.). “La France continue d’exporter des pesticides interdits”, 30 novembre 2022 [Topics, Pesticides page]. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/fr/thematiques/pesticides/la-france-continue-dexporter-des-pesticides-interdits ↩
[9] Public Eye. (n.d.). “Promesses non tenues : les exportations de pesticides interdits continuent depuis la France”, 23 septembre 2024 [Topics, Pesticides page]. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/fr/thematiques/pesticides/promesses-non-tenues-les-exportations-de-pesticides-interdits-continuent-depuis-la-france ↩
[10] Public Eye. (n.d.). “Exportations de pesticides interdits : les failles de la règlementation suisse”, 29 novembre 2022 [Topics, Pesticides page]. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/fr/thematiques/pesticides/exportations-pesticides-interdits-suisse ↩
[11] Public Eye. (n.d.). “Pesticides interdits : les exportations suisses échappent à tout contrôle”, 20 novembre 2024 [Topics, Pesticides page]. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/fr/news/detail/pesticides-interdits-les-exportations-suisses-echappent-a-tout-controle ↩
[12] Public Eye. (n.d.). “Diquat : un pesticide interdit de Syngenta responsable d’intoxications au Brésil”, 17 janvier 2025 [Topics, Pesticides page]. Retrieved September 15, 2026, from https://www.publiceye.ch/fr/thematiques/pesticides/diquat-un-pesticide-interdit-de-syngenta-responsable-dintoxications-au-bresil ↩
[13] Public Eye. (n.d.). “Le scandale de Yavatmal”, septembre 2018. Retrieved September 15, 2026, from https://exportationstoxiques.publiceye.ch ↩
[14] European Center for Constitutional and Human Rights. (n.d.). Syngenta pesticides endanger farmers and plantation workers. ECCHR. Retrieved September 15, 2026, from https://www.ecchr.eu/en/case/syngenta-pesticides-endanger-farmers-and-plantation-workers/ ↩
[15] Alcorn, T. (2025, June 10). A killer within easy reach. The New York Times. https://www.nytimes.com/2025/06/10/health/paraquat-pesticides-suicide-suriname.html ↩
[16] Shattuck, A. (2021). Generic, growing, green?: The changing political economy of the global pesticide complex. The Journal of Peasant Studies, 48(2), 231–253. https://doi.org/10.1080/03066150.2020.1839053 ↩
[17] Berndt, C., Werner, M., Mempel, F., Shattuck, A., & Dunivin, Z. O. (2025). The generics revolution and the new economic geography of the global pesticide industry. Journal of Agrarian Change, e70007. https://doi.org/10.1111/joac.70007 ↩
[18] Terra de Direitos. (2026, June 15). Superior Court of Justice upholds ruling ordering Syngenta to pay compensation for murder of landless farmer. https://terradedireitos.org.br/en/news/news/superior-court-of-justice-upholds-ruling-ordering-syngenta-to-pay-compensation-for-murder-of-landless-farmer/24330 ↩
[19] Smil, V. (2001). Enriching the earth: Fritz Haber, Carl Bosch, and the transformation of world food production. MIT Press. ↩
[20] Reader, W. J. (1970–1975). Imperial Chemical Industries: A history (Vols. 1–2). Oxford University Press. ↩
[21] Westing, A. H. (Ed.). (1984). Herbicides in war: The long-term ecological and human consequences. Taylor & Francis. ↩
[22] Zierler, D. (2011). The invention of ecocide: Agent Orange, Vietnam, and the scientists who changed the way we think about the environment. University of Georgia Press. ↩
[23] The Pesticide Creative Collective. (2025). Intervention – “Fascist truths, toxic lies: Pesticide ubiquity and its highly uneven chemical geographies.” Antipode. https://antipodeonline.org/2025/12/01/fascist-truths-toxic-lies/ ↩
[24] ETC Group & GRAIN. (2026, July 30). Top 10 agribusiness giants: Corporate concentration in food & farming – 2026 update. GRAIN. https://grain.org/en/article/7406-top-10-agribusiness-giants-corporate-concentration-in-food-farming-2026-update ↩
[25] Lebrecht, T., & Meienberg, F. (2014). Private claims on nature: No to Syngenta’s patent on peppers. No Patents on Seeds, Berne Declaration, Bionext, & Swissaid. https://www.publiceye.ch/fileadmin/doc/Saatgut/2014_PublicEye_Private_Claims_on_Natur_No_to_Syngentas_Patent_on_Peppers_Report.pdf ↩
[26] Sama, S. (2024, April 19). Toxic trade of pesticides in Iraq: A growing market and a shrinking state. Rosa Luxemburg Stiftung, Beirut Office. https://rosalux-lb.org/publications/toxic-trade-pesticides-iraq ↩
[27] Forensic Architecture. (2019). Herbicidal warfare in Gaza. https://forensic-architecture.org/investigation/herbicidal-warfare-in-gaza ↩
[28] PAX. (2026, February 16). Israel should stop spraying of controversial herbicide in Syria and Lebanon. https://paxforpeace.nl/news/israel-should-stop-cross-border-spraying-of-herbicide-in-syria-and-lebanon/ ↩
[29] Who Profits. (n.d.). Adama. Retrieved September 15, 2026, from https://www.whoprofits.org/companies/company/6596 ↩
[30] Materu, B. (2021, September 23). Partnership unveils new digital platform for Tanzanian farmers. The Citizen. https://www.thecitizen.co.tz/tanzania/business/-partnership-unveils-new-digital-platform-for-tanzanian-farmers-3559926 ↩
[31] Sundaram, J. K., & Wise, T. A. (2026, August 17). Western-led Green Revolution failing Africa. Inter Press Service. ↩
[32] Murillo, Á. (2023, June). ‘Water is sacred too’: How a pesticide banned in Europe robbed a Costa Rican town of its drinking water. Public Eye. Retrieved September 15, 2025, from https://stories.publiceye.ch/en/costa-rica/ ↩
[33] March against Bayer & Syngenta. (n.d.). March against Bayer & Syngenta. Retrieved September 15, 2026, from https://www.marchagainstsyngenta.ch/ ↩
