Pendidikan Gender dan Diskusi Bahaya Pestisida oleh Buruh Perempuan Sambas

oleh | Jun 4, 2024 | Masyarakat Lokal, Perburuhan, Solidaritas

Sambas, 28 Mei 2024 – Sebanyak 17 buruh perempuan dari empat perusahaan perkebunan sawit yang tergabung dalam Serikat Buruh Anggota (SBA) Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Komite Wilayah Kalimantan Barat mengadakan pendidikan gender dan ruang diskusi buruh perempuan di Sambas pada 26–27 Mei lalu. Acara ini menghadirkan diskusi dengan praktisi kimia dari Nexus3 dan Gita Pertiwi serta perwakilan KPBI (Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia) dan TPOLS (Transnational Palm Oil Labour Solidarity) untuk membahas peran perempuan dalam serikat, terutama dalam menyuarakan bahaya penggunaan pestisida yang berdampak pada kesehatan buruh, keluarga, dan lingkungan.

Perwakilan dari Serbuk mengungkapkan, mayoritas buruh perempuan yang bekerja sebagai Buruh Harian Lepas (BHL) berinteraksi dengan bahan kimia berbahaya seperti herbisida dan pupuk dengan minimnya perlindungan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Kondisi ini telah berlangsung selama lebih dari 10 tahun.

 

Fasilitasi diskusi buruh perempuan

 

​​”Semakin lama buruh bekerja tanpa perlindungan, semakin tinggi kecenderungan perubahan kondisi fisik seperti ruam merah dan kerusakan kuku, serta munculnya penyakit akibat gejala keracunan bahan kimia seperti pusing, sesak napas, dan darah tinggi,” ungkap fasilitator diskusi merangkum cerita buruh perempuan Serbuk. Pestisida merek dagang seperti Roundup, Starlon, Supremo, Bablass, dan Metsulindo disebut sebagai penyebab utama. Beberapa perusahaan juga diketahui menggunakan Gramoxon, yang mengandung Paraquat Dichlorida, pestisida terbatas yang seharusnya hanya digunakan dengan izin khusus dari pemerintah.

“Pestisida adalah racun yang tujuannya mengganggu kerja saraf. Ketika ibu-ibu menyemprot, kandungan yang menguap di udara lebih banyak dari yang diaplikasikan dan dihirup ibu-ibu, sehingga paling cepat berisiko ke pernapasan. Paraquat Dichlorida, misalnya, adalah pestisida terbatas yang hanya boleh digunakan dengan izin pemerintah, penyemprotnya harus terlatih, dan APD-nya lengkap. Kemudian , di rumah pun ancaman pestisida rumah tangga seperti racun nyamuk memperparah kondisi kesehatan,” jelas Titik, salah satu praktisi yang hadir.

Melalui kegiatan ini, buruh perempuan Serbuk menyuarakan pentingnya peran perempuan dalam serikat untuk mengawal hak-hak K3 dan bersolidaritas demi kesehatan buruh sawit di Kalimantan Barat.

“Kebun sawit menyumbang devisa negara, tapi buruhnya miskin karena perusahaan mengambil terlalu banyak. Penting bagi buruh perempuan untuk membangun solidaritas dengan berdiskusi, tukar pendapat, dan berkumpul. Ketika ada kawan yang sakit, kita harus menjenguk dan mendampingi untuk advokasi kesehatan. Serikat ini masih perlu banyak pemimpin perempuan,” ujar Elsa dari KPBI.

Akhir diskusi ditutup dengan buruh perempuan Serbuk menuntut hak-hak buruh K3 mereka yang terabaikan. Langkah penting yang harus dilakukan perusahaan yaitu mengangkat BHL menjadi SKU untuk merasakan manfaat pengecekan kesehatan, jaminan kesehatan, cuti tanpa potongan upah, hingga tunjangan yang layak untuk pemenuhan gizi. Mereka juga mendesak pemerintah untuk menghentikan penggunaan pestisida terbatas.

“Saat ini daya tawar buruh sangat terbatas. Kita tidak bisa menyediakan lapangan pekerjaan, itu hanya perusahaan yang bisa. Untuk mengatasi dampak negatif bahan kimia perkebunan, penggunaan racun harus dihentikan. Racun tetap berbahaya. Satu dua orang mungkin bisa bertahan, tapi generasi selanjutnya akan terkena dampaknya. Kita nanti pensiun, tapi anak cucu kita terus-menerus terserang racun. Pemerintah harus mengupayakan minimalisasi pestisida dan penggunaan pupuk alami seperti tai ayam secara nasional,” ungkap perwakilan SBA Serbuk.

 



Pin It on Pinterest